Wisata Keraton Jogja, Pusat Pemerintahan Ngayogjakarta

Posted on
Jika berbicara tentang wisata sejarah Jogja atau Daerah Istimewa Yogyakarta, pasti tidak akan tertinggal tentang Keraton Kasultanan Ngayogyakarta. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan identitas dari kota yang terkenal dengan masakan gudegnya ini. Sehingga mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan lengkap tanpa mampir ke wisata Keraton Jogja yang notabene merupakan pusat pemerintahan Raja Jogja yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono. Nah pada artikel kali ini, Mas Bei ingin membahas tentang obyek wisata sejarah Jogja, Keraton Kasultanan Ngayogyakarta.
 

Sejarah Keraton Kasultanan Ngayogyakarta

Keraton Ngayogyakarta sebenarnya merupakan pecahan dari Kerajaan Mataram. Keraton Jogja berdiri setelah ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Sebelum adanya perjanjian ini, wilayah Kasultanan Ngayogyakarta berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Perjanjian Giyanti ini juga menjadi tanda runtuhnya kekuasaan Kerajaan Mataram.
Perjanjian Giyanti ini dilakukan tidak lepas dari intervensi VOC di Kerajaan Mataram. VOC memang dikenal suka mencampuri urusan “rumah tangga” kerajaan-kerajaan di Indonesia. Akibat masuknya pengaruh VOC di Mataram, terjadilah ketidakpuasan di internal keraton, sehingga menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Puncak dari perselisihan adalah pada saat VOC mengangkat Pakubuwono I menjadi Raja Mataram menggantikan Amangkurat III yang tidak pro terhadap VOC. Akibatnya adalah Mataram memiliki 2 raja yang berseberangan, Amangkurat III menjadi pemberontak VOC sedangkan Pakubuwono I berada di kubu VOC. Amangkurat III akhirnya tertangkap di Batavia kemudian dibuang di Ceylon. Namun, tertangkapnya Amangkurat III belum mengakhiri konflik internal di Mataram. Konflik baru dapat diatasai pada pemerintahan Pakubuwono III dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Inti dari perjanjian ini adalah, wilayah Mataram dibagi menjadi 2, yaitu disebelah timur Sungai Opak (sebelah timur Prambanan dibawah kekuasaan Pakubuwono III, sedangkan di sebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Pranotogomo Kalifattullah (Sri Sultan Hamengku Buwono I). Nah setelah perjanjian inilah Kerajaan Mataram dinyatakan tidak ada dan digantikan oleh 2 kerajaan baru yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Ngayogyakarta. Sehingga secara sejarah, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta adalah pewaris dari Kerajaan Mataram.
wisata keraton jogja
Keraton Jogja merupakan pusat pemerintahan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat
 

Keraton Kasultanan Ngayogyakarta sebagai obyek wisata

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang tersisa yang masih aktif. Sampai saat ini, raja yang berkuasa adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan keraton juga masih digunakan sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarganya namun memang sudah tidak seluruhnya dipergunakan oleh Sultan. Sebagian lain dari bangunan keraton dijadikan sebagai museum dan dibuka untuk umum sebagai salah satu obyek wisata sejarah di Jogja.
Di keraton ini, teman – teman dapat merasakan nuansa sakral pada setiap suangan yang terdapat pada bangunan keraton. Selain karena bentuk bangunannya, benda – benda yang berada pada komplek keraton juga memancarkan aura sakral. Banyak pusaka atau replika pusaka keramat koleksi keraton yang dipamerkan di sini. Selain itu, ada juga gamelan dan beberapa barang lain yang merupakan pemberian / hadiah dari negara/ kerajaan lain yang juga dipamerkan disini.
wisata keraton jogja
Salah satu benda keramat koleksi Keraton Jogja
 

Lokasi dan jam buka wisata Keraton Jogja

Menemukan wisata Keraton Jogja sangatlah mudah, karena memang berada tepat pada jantung Kota Jogja. Keraton Jogja berada di ujung selatan jalan Malioboro. Jika teman – teman melihat arah selatan dari Jalan Malioboro, pasti teman – teman sudah bisa melihat posisi Keraton yang memiliki halaman yang sangat luas yang biasa disebut dengan Alun- alun Utara. Dan memang Jalan Malioboro merupakan jalan utama dari Keraton. Jika dilihat dari udara atau peta, maka posisi bangunan Keraton akan membentuk garis lurus dengan Gunung Merapi, Tugu Pal Putih (Tugu Jogja), dan Pantai Parangtritis. Garis ini menunjukkan bahwa ada hubungan secara spiritualis antara ke empat tempat tersebut yang oleh masyarakat Jogja memang sudah dikenal akan nuansa mistisnya.
Jam buka wisata Keraton Jogja dimulai pada pukul 08.00 s.d. 14.00 WIB untuk hari – hari biasa, namun khusus untuk haru Jumat, Keraton Jogja hanya dibuka dari jam 08.00 s.d. 12.00 WIB. Sedangkan untuk tiket masuk sendiri ditetapkan sebesar Rp. 7.000,- untuk wisatawan lokal, dan Rp. 12.500,- untuk wisatawan mancanegara.
Jika teman – teman mengunjungi wisata Keraton Jogja, perlu memahami bahwa Keraton Jogja tidak seperti obyek wisata lain. Di sini sangat kental dengan suasana yang mistis seperti yang sudah saya sebutkan di atas, dikarenakan memang pada benda koleksi yang dipamerkan merupakan benda – benda yang dikeramatkan oleh kalangan keraton. Selain itu bangunan yang klasik juga membuat nuansa mistis semakin kental. Oleh karena itu, bagi teman – teman yang berkunjung di Keraton Jogja, alangkah baiknya jika menjaga sikap dan tingkah laku khususnya terhadap benda – benda yang dipamerkan. Jika penasaran terhadap sesuatu, teman – teman dapat menanyakan kepada abdi dalem yang berada pada komplek keraton. Sebenarnya sih hal ini berlaku untuk semua obyek wisata, intinya kita harus menjaga obyek wisata tersebut agar tidak rusak karena ulah kita.
Demikianlah artikel Wisata Keraton Jogja, Pusat Pemerintahan Ngayogjakarta dari Mas Bei. Semoga bermanfaat bagi teman – teman sekalian. Jika ada kesalahan saya mohon maaf. Terima kasih dan salam Indonesia.