Mitoni, Tradisi 7 Bulanan Di Jawa

Posted on
Orang Jawa atau sering dikenal dengan wong jowo merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang memiliki daya imajinasi dan kreatif yang sangat luar biasa. Orang Jawa juga dikenal pandai memaknai segala sesuatu yang ada dalam hidup ini, sehingga tidak heran jika seringkali wisatawan luar ingin belajar tentang budaya Jawa. Budaya Jawa yang merupakan tradisi turun temurun ini tidak jarang yang sudah dibukukan dalam kitab yang oleh karena dibuat pada jaman dulu, tidak ditulis dengan alfabet, tetapi dengan tulisan Jawa. Oleh karena itu, biasanya wisatawan mancanegara berusaha dengan berbagai cara
untuk bias membaca dan menulis tulisan Jawa yang dikenal dengan aksara Jawa. Dengan kepandaian dan daya imajinasi yang luar biasa ini, menjadikan masyarakat Jawa memiliki aneka tradisi yang beragam yang memiliki makna dan simbolik tersendiri. Hal inilah yang menjadi salah satu karakteristik dari masyarakat Jawa salah satunya dengan adanya tradisi mitoni.

Masyarakat Jawa dan kiasan dalam berbahasa

Perlu untuk anda ketahui, ada banyak sekali berbagai macam kata-kata yang dimaknai dalam Jawa. Berbagai macam kata-kata tersebut juga masih dijadikan sebagai kata untuk ucapan kesehariannya seperti halnya telinga yang dibilang kuping. Pada masyarakat Jawa, kuping diartikan sebagai sesuatu yang kaku njepiping, tebu diartikan sebagai anteping kalbu, serta pisang ayu yang disimbolkan sebagai suatu harapan akan kehidupan yang tentrem serta rahayu,   dan masih banyak lagi berbagai macam kata-kata simbolik yang lainnya. Oleh karena itu, kita seringkali harus mencerna suatu kata atau kalimat yang diucapkan oleh orang Jawa sebelum bertindak, karena bisa jadi kalimat tersebut bukanlah maksud yang sebenarnya alias sebagai kiasan. Masyarakat Jawa yang telah melahirkan beragam upacara adat. Upacara – upacara adat tersebut kebanyakan benilai spiritual yang tinggi. Selain itu, banyak juga yang mempunyai makna untuk menunjukkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa serta untuk berbagi kepada kerabat dan tetangga. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang adalah mitoni. Dalam masyarakat Jawa, tradisi ini merupakan peringatan siklus kehidupan seseorang yang  dimulai dari dalam kandungan.

Mitoni, peringatan 7 bulan usia kandungan

Mitoni merupakan salah satu upacara untuk memperingati usia kehamilan 7 bulan. Masyarakat Jawa menandai usia kehamilan tujuh bulan itu dengan sapta kawasa jati. Dimana sapta memiliki pengertian 7, kawasa berarti kekuasaan dan jati adalah nyata. Semua makna kata tersebut dijadikan satu didalam suatu tradisi mitoni yang bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur karena Yang Maha Kuasa telah memberikan keselamatan jabang bayi (janin) hingga usia kandungan 7 bulan dan harapan / doa agar bayi lahir secara sehat dan sempurna tanpa adanya suatu masalah. Memang secara medis, pada usia kehamilan yang ke 7 bulan, janin sudah memiliki organ yang hampir lengkap, dan mulai dapat mengontrol nafas, suhu tubuh, dll sehingga resiko untuk mengalami masalah pada kehamilan dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan pada fase awal kehamilan. Oleh karena itu, masyarakat Jawa menunjukkan rasa syukurnya dengan tradisi mitoni ini.

 

mitoni
mitoni merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa untuk mengungkapkan rasa syukur dan doa atas janin yang telah menginjak usia 7 bulan dalam kandungan

 

Rangkaian tradisi Mitoni

Pelaksanaan upacara mitoni ini diawali dengan siraman brojolan dan diakhiri dengan pemakaian busana. Seringkali upacara peringatan 7 bulanan bayi ini dilaksanakan pada sore hari dan dihadiri oleh segenap sanak saudara dan para tetangga.
Tradisi mitoni ini dimulai dengan acara siraman yang dalam Bahsa Indonesia berarti mandi. Maksud dari mandi disini diartikan sebagai membersihkan serta mensucikan calon ibu serta bayi yang ada didalam kandungan agar suci secara lahir maupun batin. Pada acara siraman ini, air yang digunakan berasal dari 7 sumber yang berbeda. Sumber dalam bahasa Jawa dapat diartiken sebagai sumur, sehingga sebelum pelaksanaan prosesi siraman, pemilik hajat akan meminta air dari 7 tetangganya. Pada saat ini, banyak masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di kompleks perumahan mengalami kesulitan mencari air dari 7 sumber, karena penggunaan air dari PDAM atau dengan tower air tersentral untuk satu komplek. Oleh karena itu, banyak yang mengakalinya dengan menggunakan air minum dalam kemasan yang menggunakan sumber air berbeda (subner air biasanya dicantumkan pada kemasan air minum). Pada tahap siraman ini dilakukan dari calon nenek dan kakek, kemudian dilanjutkan sanak saudara.
tradisi mitoni
prosesi siraman yang memiliki filosofi penyucian diri calon ibu dan jabang bayi baik lahir ataupun batin
Usai menjalani siraman, calon ibu akan menjalani prosesi brojolan. Pada prosesi ini, calon ibu berbusana kain jarit yang di ikat longgar dengan latrek yang dalam bahasa Jawa berarti sejenis benang warna merah, putih dan hitam. Warna merah melambangkan kasih sayang, warna putih melambangkan tanggung jawab, serta warna hitam melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa yang telah mempersatukan kedua orang tuanya. Prosesi ini dilaksanakan dengan cara calon bapak memasukkan kelapa gading ke dalam kain jarit calon ibu dari atas dan mengeluarkannya dari bawah. Prosesi ini memiliki makna, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pada proses persalinan dapat berjalan lancar.

 

informasi wisata indonesia
kelapa gading yang digunakan dalam prosesi brojolan kemudian dibelah oleh calon ayah

 

Prosesi terakhir adalah ganti busana. Pada prosesi ini seorang ibu akan diberikan dan dikenakan busana kain batik atau jarit berbagai macam motif  dan bentuk kain batik yang beragam sebanyak 7 kali, motif ini memiliki makna dan arti tersendiri. Motif yang digunakan adalah :
1.   sidomukti (melambangkan kebahagiaan),
2.   sidoluhur (melambangkan kemuliaan),
3.   truntum (melambangkan agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh),
4.   parangkusuma(melambangkan perjuangan untuk tetap hidup),
5.  semen rama(melambangkan agar cinta kedua orangtua yang sebentar lagi menjadi bapak-ibu tetap bertahan selama-lamanya/tidak terceraikan),
6.   udan riris(melambangkan harapan agar kehadiran dalam masyarakat anak yang akan
lahir selalu menyenangkan),
7.   cakar ayam (melambangkan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya)
Sebenarnya masih ada rangkaian prosesi lainnya pada tradisi ini. Namun, pada saat ini, yang biasa dilakukan adalah 3 prosesi tersebut di atas.
Demikian artikel kami mengenai mitoni, tradisi 7 bulanan di Jawa. Semoga dapat bermanfaat dan terima kasih.